Ditemukan 12 Jenis Hewan Aneh

untitled“Perlu waktu untuk menentukan apakah ke-10 jenis ikan
tersebut tergolong spesies baru atau tidak,” kata
Bambang Sumiono, ilmuwan dari Badan Riset Kelautan
dan Perikanan (BRKP), kepada Pembaruan di atas
Kapal Riset Baruna Jaya (BJ) IV di Pelabuhan Cilacap,
Jawa Tengah, baru-baru ini. Di sela-sela ekspedisi itu,
BJ IV melakukan open ship (pameran) yang
diperuntukkan bagi masyarakat dan pelajar Cilacap.
Berdasarkan buku referensi baik yang dibawa tim Jepang maupun Indonesia, ke-10 spesies
tersebut memang belum tercantum. Karena itu, sampel ikan tersebut akan ditelusuri dengan
referensi lainnya. Dari identifikasi inilah, tim baru bisa menentukan apakah spesies tersebut
baru ditemukan atau tidak.
Secara umum, dari 110 jenis itu, 90 jenis dari kelompok ikan dan 20 jenis udang. Ternyata,
dari 20 jenis udang itu, dua spesies di antaranya belum teridentifikasi. “Kami juga sedang
mengidentifikasi sekitar 10 jenis ikan,” ungkap Sumiono.
Seperti diduga sebelumnya, potensi perikanan laut dalam di Samudra Hindia, tepatnya di
selatan sepanjang Pulau Jawa memang luar biasa. “Berdasarkan hasil penangkapan di 12 titik
pengamatan dengan kedalaman 155 hingga 920 meter, ditemukan sekitar 110 jenis ikan dan
udang,” ujar Dr Ali Suman, Ketua Tim Ekspedisi Laut Dalam, kepada Pembaruan.
Paling Dominan
Jenis paling dominan yang berhasil ditangkap, lanjut Ali, adalah dari keluarga Ophidiidae.
Urutan kedua adalah layur (T. lepturus). Ophidiidae adalah ikan yang hidup pada kedalaman
800-950 meter dengan panjang rata-rata 20-30 cm dan berat 30-40 gram.
Warna kulitnya hitam dengan tekstur daging yang lembek dan mengandung banyak air dan
lemak. Morfologi ikan tersebut mirip dengan ikan lomei (Harpodontidae) yang hidup
diperairan dangkal. “Pernah dalam sekali tarikan (haul) jaring trawl, tim berhasil menangkap
ikan tersebut sebanyak 3,65 ton,” ujar Ali.
Ada juga udang laut yang ditangkap pada kedalaman 800 meter yang berukuran besar-besar.
Di Australia dan Hawaii udang ini sudah menjadi komoditas komersial dan diekspor ke
Jepang.
Lalu pada kedalaman 810 meter juga ditemukan kepiting berbentuk unik. Cangkangnya sangat
keras dengan permukaannya yang tidak rata dan berbentuk empat persegi panjang. Red crab
geryon ini memiliki bbobot sekitar 3,52 kg.
Yang lebih menarik adalah Satyrrichtys welchi yang tertangkap pada kedalaman 200 meter.
Ikan bermulut aneh ini memiliki bentuk tubuh seperti kecebong dengan panjang 36 cm dan
berat 340.
Ikan si buruk rupa juga tersangkut pada jaring trawl pada kedalaman 850 meter. Ikan dengan
nama latin Rhinochimaera africana ini bermulut runcing dan bentuknya seperti tikus dengan
panjang tubuh sekitar 1,12 meter dan berat 2,47 kg. “Tim kami tidak berani mencoba
mengonsumsi ikan-ikan yang berbetuk aneh-aneh itu,” kata Ali. Bisa jadi, jenis-jenis tersebut
mengandung obat antikanker yang sangat berguna bagi dunia media. “Kita belum tahu dan
perlu pengkajian lebih dalam lagi,” ujarnya.
Lalu kenapa ikan-ikan di laut dalam berbentuk aneh-aneh? Salah satu jawabnya adalah kondisi
tekanan di perairan tersebut. Di kedalaman 1.000 meter misalnya, tekanan udaranya bisa
mencapai 10 kali lipat dibandingkan pada perairan dangkal (kurang dari 200 meter).
Jadi jangan heran ketika tim peneliti menempatkan gelas pop mie yang terbuat dari bahan
styrofoam pada kedalaman 920 meter, tampak bahwa ukurannya mengecil. Selain itu,
bentuknya menjadi tidak beraturan akibat pengaruh tekanan udara yang sangat tinggi. Pada
kedalaman lebih dari 200 meter, sinar matahari jelas tidak bisa menjangkaunya. Karena itu,
tubuh mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ekstrem.
untitledMerasa Puas
Hasil awal yang diperoleh 29 tim peneliti
Jepang dan Indonesia itu cukup
menggembirakan. Bukan apa-apa,
sebelumnya sejumlah keraguan
menyelimuti mereka. Apalagi kapal riset
BJ IV milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) selama dua tahun sebelumnya
tidak beroperasi.
“Syukurlah, setelah semua kerusakan diatasi dan peralatan canggih dari Jepang dipasang, kapal
mampu mengarungi ganasnya ombak selatan Jawa sekaligus menyelesaikan Leg I,” ujar
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Baruna Jaya BPPT Dr Ridwan Djamaluddin.
Kini BJ IV kembali meng-arungi Samudra Hindia, tepatnya di perairan barat Sumatera mulai
dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga Lampung. Leg II ini akan berakhir pada 30
Oktober 2004. Ketangguhan kapal riset perikanan ini kembali diuji lagi.
Apa pun yang terjadi, paling tidak, Leg 1 berhasil diselesaikan dengan sukses. Kepuasan itu
juga hinggap di benak chief scientist dari Jepang. Apalagi jika dibandingkan dengan ekspedisi
serupa yang dilakukan sebelumnya bekerja sama dengan Institu Pertanian Bogor dengan
menggunakan kapal Jepang. Hasil inventarisasi yang dilakukan BJ IV ternyata lebih beragam
dan banyak.
Kegembiraan juga menyelimuti Kepala BRKP Dr Ir Indroyono Soesilo ketika melihat langsung
hasil Leg I yang digelar di Pelabuhan Cilacap itu. “Penelitian ini nantinya akan digunakan
sebagai dasar dalam pengelolaan potensi laut dalam secara lestari,” ujarnya.
Bukan apa-apa, potensi laut dalam di Indonesia sangatlah besar jika dibandingkan dengan laut
dangkal. Berdasarkan riset, potensi di laut dalam 95 persen, sedangkan di laut dangkal hanya 5
persen.
Ironisnya, selama ini nelayan kita hanya berkutat pada penangkapan ikan di laut dangkal
dengan kedalaman kurang dari 200 meter. Maklum, untuk bisa menangkap ke laut yang lebih
dalam selain dibutuhkan teknologi tinggi juga memerlukan sarana kapal yang lebih besar.
PEMBARUAN/BUDIMAN

Advertisements

4 Comments

  1. katanya 12,, tpi kok cuman 2 sih den??
    ne da yang lain juga den..

  2. OK lumayan bwat nambahin pengetahuan.

  3. bwt yan thanks bgt ya dh b’kunjung…
    sring2 mmpir ya…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s